VISTA - Peristiwa ini tak terjadi dalam film Avatar yang disutradarai
James Cameron, bukan pula angan-angan penulis novel sains fiksi.
Khayalan mengontrol gerak robot lewat pikiran kini semakin dekat dengan
kenyataan.
Konsorsium peneliti yang tergabung dalam proyek
Virtual Embodiment and Robotic Re-embodiment (VERE) telah membuktikan
bahwa mengontrol gerak robot dengan pikiran itu mungkin dilakukan. VERE
ini merupakan konsorsium para ilmuwan dari Italia, Spanyol, Jerman,
Austria, Prancis, Swiss, Inggris, Portuga, dan Israerl.
Tirosh
Shapira, mahasiswa Bar-Ilan University yang berada di Tel Aviv, Israel,
berhasil menggerakkan robot seukuran manusia yang berada di Béziers
Technology Institute, Prancis. Bagaimana caranya?
Dengan alat
FMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging), tim VERE memindai
perubahan aliran darah dalam otak Tirosh. Untuk menerjemahkan setiap
perubahan aliran darah di otak Tirosh, tim peneliti di proyek VERE
meminta Advanced Virtuality Lab membuat aplikasi khusus.
Hasil
pemindaian otak Tirosh beserta hasil intepretasinya itulah yang dikirim
lewat internet ke Paris dan langsung tersambung dengan "otak" robot.
Setiap kali Tirosh ingin memerintahkan robot itu bergerak atau melakukan
sesuatu, dia tinggal konsentrasi memikirkannya. Beberapa puluh detik
atau menit kemudian, sang robot akan mengikuti perintah otak Tirosh.
"Sungguh
luar biasa...aku merasa seolah-olah ada di sana dan menggerakkannya
sendiri," kata Tirosh, beberapa hari lalu, seperti dikutip PCMag.
"Kalian perlu konsentrasi penuh dan berpikir beberapa langkah ke depan
karena ada jeda waktu antara pikiranmu dengan saat gerakan itu terjadi.
Tapi setelah terbiasa, kalian akan merasa seperti seorang dalang."
Senin, 27 Agustus 2012
'Meshworm' Sang Robot Cacing Tanah
Oleh Megan Gannon | LiveScience.com
Sebuah robot baru yang diberi nama “Meshworm” mampu merenggang dan mengkerut untuk merayap di tanah seperti seekor cacing tanah. Namun tidak seperti cacing tanah asli yang hidup, makhluk buatan tersebut cukup kuat dan bahkan mampu bertahan dari pukulan sebuah palu.
“Anda dapat melemparkannya dan benda tersebut tidak akan hancur. Kebanyakan bagaian mekanis itu rapuh dan kecil, namun bagian mekanis di Meshworm terbuat dari serat/berserabut dan fleksibel,” kata peneliti teknik mekanis Sangbae Kim dalam pernyataan dari MIT. “Ototnya lembut, dan tubuhnya pun juga lembut...”
Cacing
tanah memiliki dua jenis otot dalam tubuh mereka yang bekerja secara
bersama-sama untuk membantu pergerakan mereka di tanah. Otot sirkuler
yang membungkus tubuh cacing untuk bergerak maju dan otot berserabut
yang membantu cacing untuk bergerak ke kanan dan ke kiri.
MIT mengatakan dalam pernyataannya bahwa para peneliti mencoba untuk membuat tiruan dari struktur cacing tadi ke dalam robot mereka. Mereka membuat sebuah tubuh berbentuk tabung yang panjang dan dilengkapi dengan lembaran polimer yang fleksibel dan membuat otot buatan yang terdiri dari logam nikel dan titanium. Seperti otot pada cacing tanah, beberapa kawat metal tersebut dililitkan ke seluruh tubuh robot dari depan ke belakang.
Sebuah baterai kecil dan papan sirkuit ditambahkan ke tabung untuk memanaskan kawat di bagian tertentu dari tubuh robot. Panas menyebabkan “otot” berkontraksi dan para peneliti mengembangkan algoritma untuk mengendalikan kawat untuk memanas dan mendingin, yang akan menciptakan pola gerakan yang berbeda.
Meskipun kecil, Meshworm cukup kuat. Robot tersebut mampu terus bergeliat walaupun setelah diinjak, dilempar dan dipukul dengan palu. Para peneliti yakin bahwa robot lembut seperti Meshworm dapat digunakan untuk menjelajah celah sempit dan berjalan di permukaan yang tidak rata. Model Meshworm itu bahkan dapat juga dapat diterapkan dalam alat-alat elektronik, endoskopi, implan, dan prostetik.
“Meskipun tubuh robot jauh lebih sederhana dari seekor cacing asli, hanya memiliki beberapa segmen, kemampuan robot tersebut terbilang cukup mengesankan,” ungkap Kellar Autumn dari Lewis and Clarck College. “Saya memperkirakan beberapa dekade dari sekarang kita akan melihat perubahan bentuk dari otot buatan ini dalam berbagai jenis produk seperti telepon seluler, laptop dan kendaraan.”
Sebuah robot baru yang diberi nama “Meshworm” mampu merenggang dan mengkerut untuk merayap di tanah seperti seekor cacing tanah. Namun tidak seperti cacing tanah asli yang hidup, makhluk buatan tersebut cukup kuat dan bahkan mampu bertahan dari pukulan sebuah palu.
“Anda dapat melemparkannya dan benda tersebut tidak akan hancur. Kebanyakan bagaian mekanis itu rapuh dan kecil, namun bagian mekanis di Meshworm terbuat dari serat/berserabut dan fleksibel,” kata peneliti teknik mekanis Sangbae Kim dalam pernyataan dari MIT. “Ototnya lembut, dan tubuhnya pun juga lembut...”
MIT mengatakan dalam pernyataannya bahwa para peneliti mencoba untuk membuat tiruan dari struktur cacing tadi ke dalam robot mereka. Mereka membuat sebuah tubuh berbentuk tabung yang panjang dan dilengkapi dengan lembaran polimer yang fleksibel dan membuat otot buatan yang terdiri dari logam nikel dan titanium. Seperti otot pada cacing tanah, beberapa kawat metal tersebut dililitkan ke seluruh tubuh robot dari depan ke belakang.
Sebuah baterai kecil dan papan sirkuit ditambahkan ke tabung untuk memanaskan kawat di bagian tertentu dari tubuh robot. Panas menyebabkan “otot” berkontraksi dan para peneliti mengembangkan algoritma untuk mengendalikan kawat untuk memanas dan mendingin, yang akan menciptakan pola gerakan yang berbeda.
Meskipun kecil, Meshworm cukup kuat. Robot tersebut mampu terus bergeliat walaupun setelah diinjak, dilempar dan dipukul dengan palu. Para peneliti yakin bahwa robot lembut seperti Meshworm dapat digunakan untuk menjelajah celah sempit dan berjalan di permukaan yang tidak rata. Model Meshworm itu bahkan dapat juga dapat diterapkan dalam alat-alat elektronik, endoskopi, implan, dan prostetik.
“Meskipun tubuh robot jauh lebih sederhana dari seekor cacing asli, hanya memiliki beberapa segmen, kemampuan robot tersebut terbilang cukup mengesankan,” ungkap Kellar Autumn dari Lewis and Clarck College. “Saya memperkirakan beberapa dekade dari sekarang kita akan melihat perubahan bentuk dari otot buatan ini dalam berbagai jenis produk seperti telepon seluler, laptop dan kendaraan.”
Kendaraan Terbang yang Miri di ''Star Wars''
Oleh Jeremy Hsu, Penulis Senior InnovationNewsDaily | LiveScience.com
Kendaraan mengambang ini mungkin tidak akan melesat melewati hutan lebat dengan mudah seperti motor-motor di film "Return of the Jedi" Star Wars, namun kendali intuitifnya memungkinkan orang untuk menerbangkannya tanpa pelatihan pilot.

Kendaraan udara ini menyerupai motor terbang di film-film fiksi ilmiah dengan dua rotor sebagai pengganti roda. Rancangan awal motor ini sempat diabaikan pada 1960an karena masalah stabilitas saat miring. Namun Aerofex, perusahaan yang berbasis di California, memperbaiki masalah keseimbangan di motor terbang ini dengan membangun sistem mekanik yang dikendalikan di dekat lutut. Kendaraan ini pun bisa mengantisipasi gerakan miring pilot dan mengendalikan keseimbangan dengan cara yang lebih alami.
"Bayangkan saja seperti menurunkan batas terbang, sampai ke area ATV (kendaraan lintas medan)," kata Mark De Roche, insinyur ruang angkasa dan pendiri Aerofex.
Kendali intuitif seperti itu memungkinkan dokter untuk mengunjungi pasien-pasien di daerah terpencil tanpa jalan atau petugas daerah perbatasan menjalankan tugasnya tanpa melalui pelatihan pilot. Semuanya bisa terjadi tanpa kebutuhan listrik, kecerdasan buatan, atau perangkat lunak penerbangan.
"Pada dasarnya alat ini menangkap dua dari tiga axis (bergerak maju, berguling, dan miring) dan mengaktifkan kendali aerodinamis untuk menyeimbangkan berbagai gerakan ini," kata De Roche pada InnovationNewsDaily. "Karena gerakan pilot dalam menyeimbangkan pesawat ini menggunakan naluriah dan kontan, kendali ini jadi sangat mudah."

Tetapi Aerofex tidak berencana untuk segera mengembangkan dan menjual kendaraan ini. Perusahaan ruang angkasa ini menjadikan motor terbang ini sebagai platform untuk menguji pesawat penyerang tanpa awak -- kendaraan ini bisa digunakan untuk mengerjakan lahan pertanian atau mengantar obat-obatan buat tim SAR di kawasan yang sulit dijangkau.
Bahkan tentara atau satuan khusus bisa menggunakan robot semacam ini untuk membawa atau mengantar suplai berat di antara gedung-gedung tinggi yang sempit. Angkatan Laut AS sudah mulai menggunakan robot helikopter untuk mengantar suplai di Afghanistan.
Robot terbang ini mungkin tidak akan terbang seefisien helikopter karena rotor baling-balingnya yang lebih pendek, namun dengan ukuran tersebut, rotor ini bisa lebih aman berada dekat dengan manusia.
"Robot ini mampu terbang di antara pohon, dekat dengan tembok, dan di bawah jembatan."
Aerofex tengah membatasi pengujian terbang dengan manusia hanya sampai ketinggian 15 kaki atau 4,5 meter dan kecepatan 48 km per jam, lebih atas dasar kehati-hatian daripada batasan teknologi. Versi tua kendaraan ini bisa bergerak secepat helikopter, kata De Roche.
Uji terbang di Gurun Mojave California adalah dasar dari presentasi ilmiah soal pencapaian Aerofex di Konferensi Future Vertical Lift pada Januari 2012 lalu. Aerofex berencana menerbangkan versi kedua kendaraan ini pada Oktober, serta versi robotnya pada akhir 2013.
Kendaraan mengambang ini mungkin tidak akan melesat melewati hutan lebat dengan mudah seperti motor-motor di film "Return of the Jedi" Star Wars, namun kendali intuitifnya memungkinkan orang untuk menerbangkannya tanpa pelatihan pilot.
Kendaraan udara ini menyerupai motor terbang di film-film fiksi ilmiah dengan dua rotor sebagai pengganti roda. Rancangan awal motor ini sempat diabaikan pada 1960an karena masalah stabilitas saat miring. Namun Aerofex, perusahaan yang berbasis di California, memperbaiki masalah keseimbangan di motor terbang ini dengan membangun sistem mekanik yang dikendalikan di dekat lutut. Kendaraan ini pun bisa mengantisipasi gerakan miring pilot dan mengendalikan keseimbangan dengan cara yang lebih alami.
"Bayangkan saja seperti menurunkan batas terbang, sampai ke area ATV (kendaraan lintas medan)," kata Mark De Roche, insinyur ruang angkasa dan pendiri Aerofex.
Kendali intuitif seperti itu memungkinkan dokter untuk mengunjungi pasien-pasien di daerah terpencil tanpa jalan atau petugas daerah perbatasan menjalankan tugasnya tanpa melalui pelatihan pilot. Semuanya bisa terjadi tanpa kebutuhan listrik, kecerdasan buatan, atau perangkat lunak penerbangan.
"Pada dasarnya alat ini menangkap dua dari tiga axis (bergerak maju, berguling, dan miring) dan mengaktifkan kendali aerodinamis untuk menyeimbangkan berbagai gerakan ini," kata De Roche pada InnovationNewsDaily. "Karena gerakan pilot dalam menyeimbangkan pesawat ini menggunakan naluriah dan kontan, kendali ini jadi sangat mudah."
Tetapi Aerofex tidak berencana untuk segera mengembangkan dan menjual kendaraan ini. Perusahaan ruang angkasa ini menjadikan motor terbang ini sebagai platform untuk menguji pesawat penyerang tanpa awak -- kendaraan ini bisa digunakan untuk mengerjakan lahan pertanian atau mengantar obat-obatan buat tim SAR di kawasan yang sulit dijangkau.
Bahkan tentara atau satuan khusus bisa menggunakan robot semacam ini untuk membawa atau mengantar suplai berat di antara gedung-gedung tinggi yang sempit. Angkatan Laut AS sudah mulai menggunakan robot helikopter untuk mengantar suplai di Afghanistan.
Robot terbang ini mungkin tidak akan terbang seefisien helikopter karena rotor baling-balingnya yang lebih pendek, namun dengan ukuran tersebut, rotor ini bisa lebih aman berada dekat dengan manusia.
"Robot ini mampu terbang di antara pohon, dekat dengan tembok, dan di bawah jembatan."
Aerofex tengah membatasi pengujian terbang dengan manusia hanya sampai ketinggian 15 kaki atau 4,5 meter dan kecepatan 48 km per jam, lebih atas dasar kehati-hatian daripada batasan teknologi. Versi tua kendaraan ini bisa bergerak secepat helikopter, kata De Roche.
Uji terbang di Gurun Mojave California adalah dasar dari presentasi ilmiah soal pencapaian Aerofex di Konferensi Future Vertical Lift pada Januari 2012 lalu. Aerofex berencana menerbangkan versi kedua kendaraan ini pada Oktober, serta versi robotnya pada akhir 2013.
Langganan:
Postingan (Atom)